Sejarah Gerotan Mukti Siji Mukti Kabeh

Enik Yuliawati 18 Juni 2026 10:02:00 WIB

SERPIHAN CERITA ASAL USUL WILAYAH GEROTAN

Dalam cerita ini dikisahkan sejarah kejadian masa lampau yang berkenaan dengan suatu wilayah yang dinamakan Gerotan. Membicarakan wilayahGerotan, perlu adanya persamaan pengertian, bahwa Gerotan secara filosofi sebelum masa pemerintahan formal adalah satu kesatuan padukuhan. Kemudian persamaan persepsi setelah adanya sistem tata pemerintahan yang formal, ketika menyebut Wilayah Gerotan merupakan salah satu padukuhan di Wilayah Purwodadi. Penelusuran asal mula suatu wilayah yang dimulai dari manusia yang dipercaya sebagai penghuni pertama kali sampai dengan penamaan suatu wilayah dan perkembangannya sampai saat ini. Suatu wilayah yang belum berpenghuni dan masih berupa hutan belantara seperti layaknya wilayah lainnya di daerah Gunungkidul, selanjutnya muncul tokoh atau seeorang yang diyakini oleh penduduk setempat sebagai orang yang pertama kali menempati wilayah tersebut dengan cara membuka hutan atau babat alas sebagai hunian tetap dan mencari penghidupan.
Dalam kisah ini, penulis mencoba menghimpun serpihan serpihan cerita masa lalu dari penduduk setempat yang dialami langsung atau cerita turun temurun dan diyakini kebenarannya, termasuk menghimpun keterangan dan naskah cerita lainnya sebagai referensi dan perbandingan rentang waktunya. Beruntung dalam penulisan kali ini masih banyak menjumpai tokoh tokoh, sesepuh, dan pelaku sejarah yang bisa menjelaskan kisah masa lampau mengenai wilayah ini. Membicarakan asal mula suatu wilayah tentu saja tidak lepas dari perilaku adat istiadat yang berlaku dan dinamika budaya yang berlangsung bahkan masih dijalankan sampai dengan saat ini yang merupakan unsur pembentuk budaya wilayah tersebut. Sebagai pelengkap cerita asal usul suatu wilayah yang disebut Gerotan, juga ditampilkan adat istiadat upacara tradisi yang masih berlangsung, kesenian dan dolanan tradisional tempo dulu, adanya kuliner, pengobatan dan kerajinan masyarakat setempat, bahasa, logat, karya sastra dan akasara, benda atau bangunan peninggalan sejarah yang disajikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami serta penggunaan bahasa serapan dari bahasa lokal setempat. Selain itu, juga disajikan keadaan sekarang ini dari wilayah Gerotan yang sudah dibagi bagi menjadi 4 (empat) padukuhan, mulai dari gambaran geografis, monografi, keadaan penduduk dan pejabat/ pamong yang menjabat saat buku ini ditulis.

KISAH MBAH LOYI PENDIRI WILAYAH GEROTAN

Diceritakan bahwa suatu wilayah yang berupa hamparan tanah tegal banyak bukit dan gunung- gunung batuan yang mengelilingi. Pegunungan berupa kombinasi batuan karst yang diselingi dengan tanah merah yang minim dengan tingkatan tinggi yang bervariasi. Gunung yang paling tinggi di daerah tersebut adalah Gunung Bajo yang menjulang paling tinggi diantara gunung-gunung yang ada.

Gunung Bajo terletak di Selatan wilayah pemukiman warga, dengan berbagai jenis pepohonan langka yang berusia ratusan tahun berukuran besar sehingga membuat gunung ini terkesan lebih angker daripada gunung lainnya.

Wilayah yang belum berpenghuni, masih berupa hutan lebat yang dipenuhi dengan pepohonan yang besar besar, dengan berbagai varietas dan berbagai macam jenis tanaman yang tumbuh di wilayah tersebut, diantaranya jambu, pakel, kemiri, sengon, gebang, wunung, pule, weru, wareng dan beberapa tanaman lainnya seperti bayam, sirih atau suruh. Melihat gambaran situasi saat itu, bahwa wilayah ini berupa gunung dan bukit batuan dengan hutan yang lebat dan berat rasanya untuk mengolah
tanahnya, tentu saja manusia akan kesulitan untuk hidup dan bertahan ditempat tersebut kecuali manusia itu bukan sembarangan yang tentu saja memiliki kemampuan dan kekuatan batin yang melebihi manusia biasa.
Diceritakan, bahwa datanglah seorang tokoh laki- laki bernama Mbah Loyi yang dalam logat lokal setempat sering disebut Mbah Lozi yang dipercaya berasal dari daerah Tanggul Alang alang, suatu wilayah Jawa Timur adalah manusia pertama kali yang menempati wilayah tersebut dengan cara membuka dan membabat hutan tersebut atau babat alas, supaya bisa dihuni oleh dirinya, tentu saja dalam hal membuka hutan atau alas tersebut tidak semuanya dibabat habis, secukupnya dan masih menyisakan beberapa tanaman dan pepohonan yang kelak akan berguna bagi kehidupan selanjutnya. Daerah yang menjadi tujuan pertama kali Mbah Loyi sebagai tempat bermukim yakni daerah yang sering dikenal dengan sebutan Lurung/ Nglurung,
berupa hamparan tanah yang memanjang/ membujur dari arah Utara ke Selatan sebagai tempat liran air hujan dikala musim penghujan, sehingga tidak bisa dihuni, yang tanahnya gembur mengandung resapan air.
Nglurung atau Lurung merupakan daerah aliran air yang mirip sungai kecil ketika turun hujan yang ditumbuhi beberapa jenis pohon yang tumbuh besar dengan berbagai jenis dan sebutannya di kanan kiri aliran air tersebut. Sampai saat ini Lurung tersebut dihindari untuk didirikan bangunan dan masih berfungsi sebagai gorong gorong alami yang mengalirkan air hujan ke arah selatan sampai ke wilayah Telaga Kajor. Dikisahkan, setelah wilayah tersebut dapat dibersihkan, maka menempatlah Mbah Loyi tersebut ditempat tersebut yang pada saat ini belum ada namanya. Tidak semua pepohonan yang ada disitu kemudian habis dibabat oleh mbah Loyi dibantu warga setempat namun masih disisakan beberapa pohon yang sekiranya bermanfaat sebagai peneduh dan bisa menaungi pemukiman sekitar, salah satunya pohon yang masih dilestarikan oleh Mbah Loyi yang berada di sebelah Timur pemukiman tepatnya di depan mulut Goa, jenis tanamannya antara lain pohon Timo, Pohon Cengkek, pohon
Doya Lanang/cempulir, pohon Serut yang semuanya berumur ratusan tahun. Dijaga kelestarian pohon tersebut dengan cara dibangun Krapyak sejenis pagar pengaman yang terbuat dari kayu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat melindungi batang
pohon tersebut dari pengrusakan orang yang tak bertanggung jawab, sampai saat ini pohon tersebut masih tumbuh dan tetap dilestarikan oleh warga setempat. Sebagai bentuk menghargai alam dan penghormatan kepada yang menciptakan alam, sejak masa Mbah Loyi ini telah dilaksanakan upacara adat Bersik Resan yang diadakan setahun sekali, biasanya hari Seni Legi dengan bertepatan wuku Julung Pujut atau Tolu.
Disamping membuka hutan dan bermukim disitu, Mbak Loyi juga membangun sumur sederhana dari hasil melubangi tanah kemudian disusun bebatuan untuk melingkupi lobang tersebut yang oleh orang setempat disebut “belik” tepatnya di sebelah Barat
rumah yang ditempati Mbah Loyi, kubangan belik tersebut sebagai sumber cadangan air untuk keperluan hidup sehari hari, dipercaya airnya tidak pernah kering walaupun disaat musim kemarau.

Guna keperluan hidup sehari hari, Mbah Loyi bercocok tanam, bertani mengolah tanah di wilayah tersebut dengan ketrampilannya. Kabar kisah Mbah Loyi lambat laun terdengar oleh orang orang di luar wilayah tersebut yang mengikuti jejak mbah Loyi
bermukim di situ kemudai membuat suatu lingkungan padukuhan kecil. Menurut narasumber, Mbah Loyi akhirnya menikah dengan orang yang sama sama pendatang di wilayah itu sampai akhir hidupnya menetap di sini, hal itu dibuktikan dengan ditemukannya makam dan nisan mbah Loyi di komplek pemakaman Buh Lor Padukuhan Gerotan.

Semakin lama, semakin banyak pula orang-orang berdatangan dan menetap di wilayah itu sehingga menjadi suatu komunitas berupa perkampungan yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani yang tulen, tekun. Dari sini diperoleh istilah bahwa orang di wilayah ini bekerja sebagai petani yang tulen ulet dan tekun, turun-temurun yang dalam kearifan lokal disebut Garot kemudian pekerjaan mengolah tanah sering di sebut Tani. Dari istilah di atas bila digabungkan menjadi Garotani yang bermakna petani yang tekun dan ulet, kemudian sesuai karakter orang jawa pada umumnya terjadi penyebutan Garotan kemudian menjadi Gerotan sesuai dengan kemudahan dalam penyebutannya dengan cara logat warga setempat. Sampai dengan saat ini wilayah tersebut dikenal dengan sebutan Gerotan. Dengan demikian sesuai dengan pendapat berbagai narasumber, bahwa penamaan Gerotan sudah ada pada jaman Mbah Loyi hidup di wilayah tersebut.
Sumber lain menyebutkan bahwa nama Gerotan berasal dari suara Gerat-Gerot suatu gesekan antara ranting dahan pohon yang tumbuh berseberangan di kanan-kiri Lurung yang tumbuh besar sehingga ranting dahan pohon tersebut bersinggungan, yang
apabila tertiup angin akan menghasilkan suara gerat gerot dalam pemahaman dan pendengaran masyarakat setempat, sehingga tempat ini disebut Gerotan.

Secara historis, yang disebut wilayah Gerotan hanyalah di seputaran Nglurung, sumur dan tempat tinggal mbah Loyi, untuk wilayah lain disebut dengan penamaan lain tergantung hal hal yang melatar belakangi pembukaan suatu wilayah.
Sesuai keterangan dari berbagai pihak, Tokoh Mbah Loyi selama hidupnya memiliki kemampuan lebih / daya linuwih sehingga warga sekitarnya mempercayai dan menganggap Mbah Loyi sebagai panutan atau pemimpin saat itu. Kemampuan yang
dimiliki tidak hanya mencakup bidang pertanian dan bercocok tanam, namun juga terkait dengan pengobatan, ketrampilan tangan, pemanfaatan tanah pekarangan, berternak dan dipercaya memiliki pusaka atau Jimat beernama Dadung Awuk dan
Cemeti dan pusaka tersebut dipercaya disimpan di dalam Goa yang terletak sebelah Timur pemukiman warga. Karena wilayah tersebut terdapat Goa yang menyimpan jimat atau pusaka peninggalan mbah Loyi, maka wilayah tersebut dinamakan Jimatan.

Mbah Loyi selama hidupnya memiliki anak berjumlah 9 (sembilan) yang semuanya laki laki. Salah satu keturunan mbah Loyi yang bisa dilacak adalah cucunya yang bernama Kromo Setiko yang oleh masyarakat setempat terkenal dengan Mbah Ndhol dan beberapa buyut mbah Loyi yang hidup di wilayah ini. Anak cucu keturuanan Mbah Loyi yang melanjutkan menetap di rumah mbah Loyi sampai saat ini adalah Mbah Sani yang merupakan buyut mbah Loyi dan suaminya, mbah Soma Glemboh.

Lokasi tempat tinggal Mbah Loyi keadaan sekarang Adapun keturunan mbah Loyi yang baru bisa terlacak keberadaaannya sudah keturunan ke dua atau cucu adalah sebagai berikut:
a. Kromo Setiko (mbah ndol), berputera :
1) Marikem
2) Saido
3) Tomo, Tomo ini pernah dipercaya oleh para warga untuk menjadi sesepuh di wilayah ini bertempat di Wareng, Brongkol
4) Satino
5) Lajem
b. Wardi (Jamus), berputera :
1) Sani, Sani ini merupakan buyut mbah Loyi atau keturunan ke 3 (Ketiga), bersuami Soma (Mbah Soma Glemboh) yang sekarang ini menempati Rumah yang dahulunya merupakan cikal bakal kediaman mbah Loyi.
2) Warem
c. Samikem, berputera :
1) Karto Suwito
2) Iro rejo
3) Rakim
4) Sakinem (Jedhig)
5) Merto Setiko
6) Sakiyem
7) Sarino, Sarino ini merupakan Dukuh Jimatan yang saat ini telah purna tugas.
8) Rakijo
9) Raman
d. Mbah Bendrok, berputera :
1) Sadad
2) Ires
3) Bakat
4) Suminem
e. Mbah Pani, berputera :
1) Wariman
2) Warno
3) Tumbu
4) Kawur

BUMI GEROTAN

Dengan berjalannya waktu, wilayah sekitar Nglurung yang disebut dengan Gerotan makin berkembang dan banyak pula warga pendatang yang turut bermukim mencari penghidupan di wilayah ini. Tentu saja hal ini menjadikan wilayah Nglurung atau Gerotan ini semakin padat penduduknya menjadi sebuah kampung kecil. Guna mengatasi kepadatan penduduknya, maka warga setempat sepakat untuk meluaskan wilayah huniannya dengan cara membuka hutan atau alas di sekitar Gerotan.
Sejak saat itu terjadi pemekaran wilayah Gerotan ke arah Timur yaitu wilayah dimana terdapat goa yang tersimpan jimat Mbah Loyi berupa Dadung Awuk dan Cemeti maka wilayah ini disebut Jimatan. Dirasa belum cukup untuk mengembangkan
pemukiman, maka pembukaan hutan/ alas sampai pada wilayah yang dipenuhi pohon jambu sehingga wilayah tersebut dinamakan Jambu. Begitu pula dengan wilayah lain yang ketika membuka lahan ditemukan kumpulan tanaman Kemiri yang
pohonnya sangat rapat satu sama lainnya sehingga nama wilayah ini disebut Miri Kerep karena banyaknya pohon Kemiri di wilayah itu. Kemudian ada wilayah yang berada di bawah jurang yang tinggi harus menuruni tebing untuk menjangkaunya maka wilayah tersebut disebut nJurang.

Kemudian pemekaran di seputaran sumur Nglurung, yakni wilayah Gebang yang diyakini bahwa di daerah tersebut pernah tumbuh pohon Gebang. Ada wilayah di sebelah Barat keberdaan sumur yaitu Nglebak, disebut demikian karena wilayahnya di dataran rendah atau bawah dibandingkan wilayah sekitarnya sehingga disebut Nglebak/ Lebak dalam bahasa jawa berarti bawah. Suruh / BuhLor, suatu wilayah dimana berupa dataran lebih tingga dari pada wilayah di sekitarnya yang dipenuhi tumbuhan Sirih (Suruh dalam Bahasa Jawa) sehingga dinamakan Suruh, selain itu ada yang menyebutkan BuhLor karena lokasinya memang di sebelah Utara (Lor dalam bahasa Jawa) dari padukuhan setempat.
Di sebelah Selatan BuhLor terdapat wilayah disebut Karang Gumuk hal ini karena wilayah ini berupa batu batu karang yang tertimbun oleh tanah. Kemudian diikuti wilayah wilayah lainnya antara lain, Bangsari, Bayeman, Sengon Doyong, Weru, Wareng, dan Brongkol. Dan wilayah paling Barat, pemekarannya meliputi wilayah Dakwunung, Suru, Mojing, Pule, Kandri, Kobran dan Kenis. (alasan Pemberian Nama) Di wilayah Kenis terdapat Goa Bentar yang ditumbuhi pohon Bentaro atau Bintaro yang
termasuk tanaman langka, konon ditemukan Tongkat/teken yang halus mengkilat dalam istilah jawa Klimis, kenis kenis yang menjadi alasan mengapa wilayah ini disebut Kenis. Ada juga sumber lain yang menyebutkan bahwa di wilayah ini warga
wanitanya berparas kenes kenes, sehingga wilayah ini disebut Kenis.
Menceritakan wilayah Gerotan tidak terlepas dari sejarah Kalurahan Purwodadi. Sebelum tahun 1947 belum berdiri Desa/ Kalurahan Purwodadi seperti pada saat ini. Pada saat itu masih terdapat 3 (tiga) kalurahan, yaitu Kalurahan Danggolo, Kalurahan Gesing dan Kalurahan Winangun. Wilayah Gerotan termasuk wilayah yang berada di Kalurahan Gesing dengan Lurah Prawiroharjo dan carik dijabat oleh Sastro Wiharjo alias Sandiman. Saat itu wilayah Gerotan masih berupa satu kesatuan Kampung belum terbagi bagi menjadi beberapa Padukuhan. Dan tentu saja perkembangan Gerotan secara umum juga berhubungan dengan tokoh Mbah Loyi dan anak cucu keturunannya. Pada periode tahun 1920 an dimana era sebelum adanya sistem pemerintah formal, diketahui salah satu cucu mbah Loyi yang bernama Kromo Setiko sering disebut Mbah Ndhol pada saat itu bertempat tinggal di wilayah Wareng, oleh warga setempat, yang pada saat itu dipercaya dan menjadi panutan sebagai pemimpin wilayah Gerotan secara umum setingkat Dukuh. Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin wilayah Gerotan, Mbah Kromo Setiko dibantu Mbah SoSentono yang merupakan salah satu buyut mbah Loyi. SoSentono menetap di wilayah Gerotan yang dikenal sebagai Bayan atau mbah Bayan. SoSentono ini merupakan Kakek dari Bapak Sugiman yang merupakan Pamong Desa Purwodadi sebagai Jagabaya saat itu dan telah purna tugas. Selain itu Kromo Setiko dan Sosentono, juga terdapat tokoh yang membantu tanggung jawab pemerintahan saat itu yaitu Mento Wijoyo yang menetap di wilayah Bangsari menjabat sebagai Jaga Miruda atau setingkat Rukun Tetangga (RT). Setelah Kromo Setiko wafat sekitar tahun 1921, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya bernama Mbah Tomo. Mbah Tomo merupakan salah satu anak dari Kromo Setiko, mbah Tomo Ketika itu bertempat tinggal di Wareng. Jadi sebelum adanya sistem pemerintahan yang resmi, di daerah ini sudah terdapat sistem panutan yang secara adat istiadat telah memiliki pemimpin dibantu beberapa tokoh lainnya yang menjadi panutan. Masih di masa Pemerintahan Kalurahan Gesing, wilayah Gerotan belum memiliki sumber daya manusia yang mampu untuk menjalankan sistem
pemerintahan secara penuh sejak Kemerdekaan bangsa Indonesia hal ini disebabkan minimnya fasilitas dan kesempatan warga sekitar untuk sekolah atau menimba ilmu tata pemerintahan. Dari hal tersebut menyebabkan pemerintah di atasnya
mengutus Marto Sentono adalah putra seorang demang yang berasal dari wilayah Cuwelo, Semanu. Marto Sentono tinggal di wilayah Gerotan sekitar tahun 1945 dan menjabat sebagai Kamituwa atau Sosial di Kalurahan Gesing. Marto Sentono tinggal
bersama istrinya yang bernama Ny. Rani memiliki putra antara lain, Atmo Supardi, Wartiyem (Ny.Adi Sukiyoto), Arjo Suradi, Marsinem (Ny.Suwito Taruno), Kapluk, dan Warsinem yang semuanya tinggal di wilayah ini sampai dengan anak cucunya.
Kondisi pemerintahan seperti ini berlangsung sampai dengan berakhirnya pemerintahan Kalurahan Gesing. Memasuki perkembangan sistem pemerintahan secara umum, terjadinya penggabungan Kalurahan Danggolo, Kalurahan Gesing dan Kalurahan Winangun tentu saja berdampak pada pemerintahan di wilayah Gerotan. Tahun 1947 terjadi penggabungan 3 (tiga) Kalurahan tersebut menjadi Desa/ Kalurahan Purwodadi, sehingga saat itu pula berakhirnya Pemerintahan Kalurahan Gesing, Kalurahan Danggolo dan Kalurahan Winangun yang sepakat melebur menjadi satu kalurahan. Namun untuk pamong yang menjabat saat itu merupakan kolaborasi pamong dari 3 (tiga) kalurahan lama tersebut termasuk pamong yang berasal dari wilayah
Gerotan, berikut kutipan dari Buku Sejarah Dumadining Desa Purwodadi, komposisi pamong pada saat tahun 1947 adalah sebagai berikut :
1. R.Ng Radyo Suwito : Lurah
2. Sastro Mudjijono : Tjarik
3. Marto Sentono : Kamituwo/ sosial
4. Pawiro Sumarto : Ulu-ulu
5. Marto Wihardjo : Djagabaja
6. Muh. Munasir : Kaum
7. Wara : Pembantu
8. Atmo Supardi : Pembantu
9. Marto Subardjo : Pembantu
10. Harto Wardojo : Pembantu
11. Pontjoredjo : Pembantu
12. Lasa : Pembantu
13. Wirjowidjojo : Pembantu
14. Sopawira : Pembantu
15. Marto Sukito : Pembantu
16. Muh. Amir : Pembantu
17. Amatsalih : Pembantu
18. Dullamin : Pembantu

19. Tulus : Kepala Dukuh
20. Tomoredjo : Kepala Dukuh
21. Sonokarijo : Kepala Dukuh
22. Martoredjo : Kepala Dukuh
23. Kertowidjojo : Kepala Dukuh
24. Mentowikromo : Kepala Dukuh
25. Suwitotaruno : Kepala Dukuh
26. Djakarijo : Kepala Dukuh
27. Wanaredja : Kepala Dukuh
28. Partosentono/Sosentono : Kepala Dukuh
29. Imannadi : Kepala Dukuh
30. Mesin : Kepala Dukuh


Dari data di atas, nampak bahwa pamong/ pemimpin wilayah Gerotan pada saat itu juga direkrut menjadi pamong pada saat penggabungan Kalurahan Purwodadi, diantaranya Marto Sentono sebagai Kamituwa, Atmo Supardi (anak pertama Marto Sentono) sebagai Pembantu Carik, Pontjorejo sebagai pembantu Kemakmuran/ulu-ulu, dan Partosentono/Sosentono sebagai Kepala Dukuh yang mencakup seluruh wilayah Gerotan. Hal itu dibuktikan, pada saat penggabungan Kalurahan di Purwodadi, hanya menyebutkan satu nama Kepala Dukuh yang berasal dari wilayah Gerotan, artinya, wilayah Gerotan pada saat itu masih menjadi satu, belum terbagi menjadi beberapa padukuhan.
Setelah adanya Maklumat Nomor 5 tahun 1948 yang memuat ketetapan bersama antara Kasultanan dan Paku Alam tentang Pengesahan Kalurahan baru yang merupakan gabungan beberapa kalurahan lama, salah satunya Kalurahan Purwodadi, semakin
banyaknya jumlah penduduk dan semakin rumitnya sistem pemerintahan waktu itu, maka wilayah Gerotan akan kerepotan apabila hanya dipimpin oleh satu Dukuh, maka setelah tahun 1950 dibentuk beberapa pembagian wilayah Gerotan menjadi 4
(Empat) padukuhan yang secara resmi setelah adanya UU Nomor 15 Tahun 1950, tentang pembentukan Daerah daerah di DIY dan Jawa Tengah.

Padukuhan Gerotan Pada masa pemerintahan Kalurahan Purwodadi, Parto Sentono atau Sosentono yang sebelumnya sebagai Bayan di Wilayah Gerotan, diangkat sebagai Dukuh di seluruh wilayah Gerotan. Setelah adanya pembentukan dan pembagian padukuhan baru, Parto Sentono tetap menjabat Dukuh Padukuhan Gerotan secara administrasi dan formal. Pusat aktivitas kemasyarakatan dan pemerintahan masih berada di rumah dukuh yang menjabat belum memiliki bangunan balai dusun, sehingga nama padukuhan berasal dari dimana rumah dukuh saat itu berada, karena rumah dukuh berada di wilayah Gerotan maka padukuhan ini disebut Padukuhan Gerotan.

Karena adanya ketentuan peraturan, Parto Sentono memasuki masa purna tugas pada tahun 1965. kemudian tanggung jawab jabatan dukuh dilanjutkan oleh putranya yang bernama Sukatman/Darmo Sukatman (lahir tahun 1935) melalui mekanisme Beslit atau penunjukan, yang berlangsung mulai tahun 1967 sampai dengan tahun 1999 karena meninggal dunia.

Dimasa Kepemimpinan Dukuh Sukatman ini, telah dirintis adanya pembangunan balai dusun dengan cara gotong royong dan swadaya masyarakat sekitar tahun 1988. Lahan untuk mendirikan balai dusun merupakan tanah /gunung milik Siswanto berlokasi di Buh Lor atau Suruh yang kemudian dibeli oleh masyarakat dan ditempati balai dusun sampai saat sekarang. Kemudian bangunan pertama kali sebagai balai dusun adalah rumah limasan yang dibeli dari pemilik, Ibu Waitem (Brongkol), kemudian pada tahun 1993 merubah bangunan limasan menjadi rumah joglo yang dibeli dari Bapak Wir Saman, dan bangunan limasan yang lama dibongkar dan dimanfaatkan untuk berbagai bangunan seperti pos ronda sebanyak 2 unit. Saat itu jalanan masih berupa batu dan belum lebar seperti saat ini. Belum adanya aliran Listrik sehingga penerangan pada malam hari masih menggunakan lampu teplok atau sentir dan barulah listrik mengalir di daerah ini pada tahun 2000.
Pada saat masa dukuh Sukatman, berhasil membangun tugu batas antar dusun, mulai tertata dengan rapi mengaturan dan administrasi pemungutan pajak bumi dan bangunan. Dari itu, urusan administrasi pajak dan kependudukan berjalan lancar dan tertib hingga sampai saat ini. Dari segi kehidupan beragama, pada masa itu telah berhasil membangun sebuah masjid Al Ikhlas pada tahun 1994. Situasi Gerotan sebelum Pada tahun 1997, kesehatan Sukatman mulai menurun, sehingga tugas dan kewajibannya dijalankan oleh anaknya yang bernama Sutino terkait segala urusan pemerintahan dan kemasyarakatan dan Setelah Sukatman meninggal dunia di tahun 2000, maka kemudian tanggung jawab dukuh Gerotan secara yuridis dibebankan pada Partorejo/ Pak Rebeng yang pada saat itu sebagai dukuh Brongkol sebagai penjabat Dukuh Gerotan antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2002.

Guna mengisi kekosongan Dukuh Gerotan, maka Pemerintah Kalurahan Purwodadi melaksanakan proses pengisian Dukuh Gerotan dengan cara pemilihan langsung yang diikuti oleh Sutino, Supriyanto, dan Saridin yang akhirnya Supriyanto mendapatkan perolehan suara terbanyak dan dilantik menjadi Dukuh Gerotan pada tanggal 26 Februari 2002 dan menjabat sampai dengan saat ini. Dukuh dibantu oleh 3 orang Ketua RT yaitu Tugiyo (RT.1), Darsoyono (RT.2), Nuryadi (RT.3) dan 1 orang Ketua RW yakni Kamin (RW.9)

Padukuhan Brongkol
Pada periode waktu yang hampir bersamaan Poncorejo ditunjuk oleh Pemerintah Kalurahan Purwodadi yang bertempat tinggal di Brongkol yang saat itu menjabat Pembantu/staf Kemakmuran atau Ulu-ulu ditunjuk untuk memimpin sebagai Dukuh di wilayah sekitar tempat tinggalnya, pusat dan aktivitas masyarakat dan pemerintahan setingkat padukuhan berlangsung di rumah Poncorejo karena pada saat itu belum memiliki bangunan sejenis balai masyarakat. Setelah adanya pembagian wilayah
menjadi beberapa padukuhan nama padukuhan ini disebut Padukuhan Brongkol dengan alasan bahwa pusat pemerintahan dan aktivitas pada saat itu berada di rumah Dukuh yang berada di wilayah Brongkol. Karena adanya suatu permasalahan tertentu
masa jabatan Poncorejo berakhir di tahun 1979, kemudian dilanjutkan sebagai penjabat Dukuh Brongkol oleh Partorejo dengan mekanisme pemilihan langsung oleh masyarakat.

Dimasa Dukuh Partorejo ini, dengan bergotong-royong dan swadaya masyarakat telah berhasil mendirikan bangunan Balai Dusun Brongkol pada tahun 1988 yang menempati Tanah Kas Desa. Bapak Partorejo pensiun dari jabatan Dukuh
Brongkol pada tahun 2006 di usia 60 tahun. Jabatan Dukuh selanjutnya di lanjutkan oleh Ibu Saminah dengan tata cara pemilihan rakyat.

Ibu Saminah meninggal dunia pada tahun 2012 karena menderita sakit, kemudian tanggung jawab Dukuh dijabat oleh Bapak Supriyanto (Dukuh Gerotan) sebagai penjabat dukuh Brongkol sampai beberapa bulan. Guna mengisi kekosongan jabatan
Dukuh di Padukuhan Brongkol, Pemerintah Desa Purwodadi saat itu mengadakan tahapan pemilihan Dukuh Brongkol yang diikuti oleh 3 (tiga) Calon Dukuh yaitu, Jaka Supriyana, Suparjo, Wahyudi dan Heri, yang pada akhirnya Jaka Supriyana berhasil memperoleh suara terbanyak dan dilantik sebagai Dukuh oleh Kepala Desa Purwodadi Ibu Suprihatin pada tanggal 12 November 2012, menjabat sampai dengan saat sekarang.

Pada saat ini Dukuh dibantu oleh Ketua RT dan Ketua RW antara lain, Endro Cahyono (Ketua RW.8), Wasto Diriyo (Ketua RT.1), Kismogiyono (Ketua RT.3) dan Parnoto (Ketua RT.4)

Padukuhan Jimatan
Perkembangan dan jumlah penduduk juga dialami wilayah ini ke arah Timur Padukuhan Gerotan, sehingga memerlukan adanya pembagian wilayah dan kepemimpinan di wilayah Timur tersebut. Maka sekitar pada tahun 1956 an ditunjuk
Suwito Taruno sebagai dukuh setempat. Suwito Taruno adalah menantu dari Marto Sentono (Kamituwa atau Sosial) saat itu. Suwito Taruno dan keluarganya bertempat tinggal di wilayah yang disebut Jimatan yang menjalankan aktivitas
kemasyarakatan dan pemerintahan berada di rumahnya karena belum memilki bangunan balai dusun, sehingga pada saat pembentukan padukuhan baru, maka padukuhan ini disebut padukuhan Jimatan, diambil dari nama wilayah dimana dukuh tersebut bertempat tinggal. Tanggung jawab Suwito Taruno sebagai dukuh Jimatan berakhir tahun 1964 karena beliau meninggal dunia, kemudian dilanjutkan oleh menantu Suwito Taruno yang bernama Sarino.

Jabatan Dukuh diisi dengan penunjukan langsung oleh DPRKGR merupakan lembaga Desa Purwodadi sebagai perwakilan masyarakat pada saat itu, untuk saat sekarang disebut BPKal (Badan Permusyawaratan Kalurahan). Anggota DPRKGR bermusyawarah yang menghasilkan keputusan mengangkat Sarino sebagai Dukuh Jimatan pada tahun 1964.

Pada masa ini, dukuh bersama masyarakat bergotong royong dan swadaya merintis dan membangun balai dusun. Menempati lahan pekarangan milik Keluarga Kromo Setiko yang berlokasi di wilayah Miri Kerep, yang diperoleh dengan cara membeli kemudian didirikan bangunan balai dusun pada tahun 1988. Sarino memasuki masa pensiun pada tahun 2005 di usia 60 tahun, kemudian jabatan Dukuh Jimatan dilaksanakan oleh Supriyanto (Dukuh Gerotan) sampai dengan beberapa saat.

Pada tahun yang sama, dilaksanakan proses pengisian jabatan Dukuh Jimatan dengan cara pemilihan langsung oleh masyarakat dengan calon sebanyak 2 (dua) orang yakni Subekti dan Wastono yang pada akhirnya Subekti berhasil unggul dalam
perolehan suara yang dilantik oleh Kepala Desa Purwodadi pada tanggal 7 Januari 2006 sebagai Dukuh Jimatan sampai dengan saat ini, dan dibantu oleh Sukarman sebagai Ketua RT.1, Sagiman (Ketua RT.2), Wassenen (Ketua RT.3) dan Saimin (Ketua
RW.10)

Padukuhan Kenis
Pemekaran dan perkembangan penduduk juga dialami wilayah ini ke arah Barat, sehingga juga dibutuhkan suatu pemimpin di wilayah itu. Diperoleh keterangan bahwa bersamaan dengan pemekaran di wilayah lainnya, daerah paling ujung Barat Wilayah
Historis Gerotan juga dipimpin oleh seorang Dukuh bernama Mento Sentono bertempat tinggal di wilayah Kenis di tahun 1952. Pusat kegiatan masyarakat dan pemerintahan waktu itu berpusat di rumah dukuh setempat, sehingga pemberian nama
padukuhan tersebut dengan sebutan padukuhan Kenis. Saat itu telah berdiri bangunan berupa lumbung desa sebagai tempat cadangan pangan. Pada saat Mento Sentono Wafat, tugas dan pekerjaan dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Noto Subiyo, tanggung jawab dukuh ini bersifat sementara. Kemudian Pemerintah Desa Purwodadi melaksanakan proses pengisian Dukuh Kenis tersebut dengan cara pemilihan langsung yang
diikuti calon dukuh yakni Noto Subiyo dan Sawal, akhirnya Sawal memperoleh suara lebih banyak dan dilantik sebagai dukuh Kenis.

Di masa pemerintahan Dukuh Sawal, sekitar tahun 1988 mulai dibangun balai dusun, berlokasi di wilayah Cabe yang menempati Tanah kas Desa, dan bangunan sebagai balai dusun, awalnya sebuah rumah limasan hasil membeli dari daerah Trosari, Tepus. Selain itu juga telah dibangun tugu batas antar padukuhan, pelebaran jalan yang dulunya hanya jalan setapak yakni di wilayah Dakwunung dan Suru serta telah membangun pos ronda tepatnya di tahun 1987.

Dukuh Sawal telah memasuki masa pensiun, setelah berusia 60 tahun di tahun 2012, untuk melangsungkan jabatan Dukuh Kenis maka dilaksanakan proses pengisian Dukuh Kenis dengan cara pemilihan langsung, pada saat itu calon dukuh yang melamar adalah Dwi Feriyanto dan Ngatiman dan akhirnya Dwi Feriyanto memperoleh suara terbanyak dan dilantik oleh Ibu Suprihatin, Kepala Desa Purwodadi pada tanggal 12 November 2012 menjadi Dukuh Kenis sampai saat sekarang.

Dalam menjalanan pemerintahan di tingkat padukuhan, dukuh dibantu oleh Suyono sebagai Ketua RW.7, Kamto sebaga ketua RT.1 Alip sebagai Ketua RT.2, Ngatiyo sebagai Ketua RT.3 dan Sukiyono sebagai Ketua RT.4

ADAT ISTIADAT DAN WARISAN BUDAYA MASYARAKAT LOKAL

Upacara tradisional adalah suatu kegiatan sosial yang melibatkan warga masyarakat yang bersangkutan dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan tertentu. Di dalam upacara tradisional mengandung aturan-aturan yang tidak tertulis, tetapi
tumbuh dan berkembang secara turun-temurun sehingga mempunyai peranan dapat melestarikan ketertiban hidup dalam masyarakat. Salah satu warisan budaya berupa upacara tradisi yang masih berjalan adalah rasulan. Tradisi rasulan atau yang
sering disebut bersih dusun merupakan upacara tradisional sebuah ritual warisan dari nilai nilai luhur lama yang menunjukkan bahwa manusia jadi satu dengan alam. Manusia memerlukan alam untuk hidup dan alam perlu dijamin kelestariannya oleh
manusia. Upacara tradisional rasulan timbul karena adaya dorongan perasaan masyarakat untuk melakukan berbagai perbuatan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia ghaib. Dalam hal ini manusia dihinggapi oleh suatu emosi keagamaan
dan ini merupakan perbuatan keramat, semua unsur yang ada di dalamnya saat upacara, benda benda seperti alat upacara, serta orang orang yang melakukan upacara dianggap keramat.
Upacara adat rasulan merupakan sistem aktivitas atau rangkaian tindakan terstruktur yang ditata oleh adat yang berlaku dalam masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa tetap yang biasanya terjadi dalam masyarakat yang bersangkutan. Sebagian besar desa/ dusun di wilayah Kabupaten Gunungkidul masih mempercayai dan mamatuhi tradisi rasulan hanya bentuk dan tata cara pelaksanaanya yang tidak sama, hal ini karena terkait dengan adat dan perilaku sebelumnya dari
leluhur yang diwarisinya. Di Wilayah Gerotan Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, adalah termasuk yang masyarakatnya masih memegang teguh adanya adat tradsisi rasulan sebagai upaya menata hubungan dengan alam, sebagai pranata sosial, sebagai kearifan lokal yang dilaksanakan satu tahun sekali sehabis panen raya pertanian para kaum petani, seperti jagung, kacang kedelai, tebon, padi, ketela pohon dan lain lain bertepatan dengan hari Senin Legi dan memilih wuku Julung Pujut atau Tolu Penduduk Wilayah Gerotan yang pada dasarnya adalah petani telah lama menjalin hubungan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan dari bertani yang berhasil, mereka membentuk kelompok non formal untuk melakukan ritual-ritual tertentu dan menjalin kerjasama mulai dari penggarapan lahan, proses penanaman dan pasca panen. Semua itu dilaksanakan dengan semangat kebersamaan dan saling percaya. Berangkat dari hubungan timbal balik dan interaksi yang terus menerus dari kelompok warga masyarakat petani ini kemudian terbentuk dan terlaksana upacara tradisi rasulan sebagai cara untuk mencapai keselarasan kehidupan manusia dengan alam. Adanya kemampuan masyarakat wilayah Gerotan untuk bekerja sama demi mencapai tujuan bersama inilah yang disebut semboyan hidup mukti siji mukti kabeh, yaitu masyarakat yang guyub, gotong royong dan rasa saling percaya terikat erat dan berkembang secara dinamis baik dalam keadaan suka maupunduka. Dalam perkembangannya, semangat semboyan mukti siji mukti kabeh masyarakat dalam tradisi rasulan diwujudkan dalam bentuk partisipasi secara aktif mulai dari perencanaan, pendanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Terhadap hal ini warga masyarakat Gerotan tidak sama sekali terbebani bahkan sebaliknya mereka merasa bertanggung jawab demi menjamin keberlangsungan tradisi rasulan, karena di sisi lain mereka ada perasaan takut kualat terhadap leluhur dan kekuatan ghaib apabila tradisi rasulan tidak dilaksanakan.
Warga masyarakat wilayah Gerotan, selain punya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, masih percaya akan adanya kekuatan ghaib, maka mereka ada kecenderungan untuk selalu melestarikan tradisi rasulan peninggalan dari leluhurnya karena dianggap ada kegunaannya dalam menata hubungan antara alam nyata dengan alam yang ghaib. Upacara tradisi yang dilaksanakan di musim kemarau ini biasanya memerlukan waktu satu hari satu malam dengan kegiatan ritual seaji sesaji, kirab gunungan, kenduri, pagelaran seni tradisi dan kegiatan olahraga. Kegiatan upacara rasulan di wilayah Gerotan yang sedemikian rupa ini tidak lepas dari interaksi sosial masyarakat, karena interaksi sosial kemasyarakatan ini melibatkan banyak orang sehingga mempunyai hubungan timbal balik antara pelaku dan upacara yang akan dilakukan, serta unsur-unsur yang mendukungnya. Oleh karena itu interaksi sosial menjadi faktor penting dalam hubungan dengan orang lain dan menyangkut suatu upacara, hal ini menunjukkan adanya partisipasi, gotong royong dan kerjasama. Partisipasi masayarakat merupakan hak dan kewajiban warga untuk memberikan konstribusinya kepada pencapaian tujuan sehingga mereka diberi kesempatan untuk ikut serta menyumbangkan inisiatif dan kreatifnya. Partisipasi tanpa keterpaksaan dapat dimaknai sebagai perwujudan rasa syukur dan harapan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan di tahun sebelumnya dan sebagai harapan (do’a) untuk tahun yang akan datang demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain partisipasi sebagai bentuk pengakuan bahwa tradisi rasulan masih diperlukan karena dianggap masih relevan. Adanya kerjasama dan gotong royong yang melekat di antara warga masyarakat wilayah Gerotan selama ini sehingga tradisi rasulan dianggap berhasil, maka penulisan buku sejarah ini mencantumkan kekayaan dan khasanah kearifan lokal dengan tujuan terjaga dan berkembangnya adat istiadat dan warisan adi luhung wilayah Gerotan dan tetap lestari sampai kapanpun. Selain maksud dan tujuan di atas, terselip kearifan lokal masyarakat setempat untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam hayati salah satunya pohon langka yang umurnya ratusan tahun. Sehari sebelum upacara rasulan lokasi yang disebut resan tersebut dibersihkan oleh warga untuk menjaga kelangsungannya. Dengan demikian tanaman langka tersebut tidak terganggu oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab karena semua merasa punya andil.

Tata cara Adat Tradisional
Di wilayah Gerotan pada saat sekarang ini masih dijalankan dan dilestarikan keberadaan tatacara adat tradisi budaya Jawa peninggalan para leluhur sebagai tanda rasa syukur dan perlambang terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, Alloh
SWT.
1. Adat istiadat bagi kehidupan manusia, yang dilaksanakan oleh keluarga itu sendiri yang mempunyai hajat, diantaranya :
? Puputan Bayi
? Tetakan/supitan
? Tingkeban/ tujuh bulan
? Punaran pengantin
? Sepekenan/sepasaran pengantin
? Momongi bale wisma enggal
? Momongi munggah suwunan.

2. Tata cara upacara untuk mengirim doa kepada para arwah yang telah meninggal dunia, diantaranya;
? Surtanah
? Pitung dinten / 7 hari
? Kawandasa dinten / 40 hari
? Satus dinten /100 hari
? Pendhak sepisan / 1 tahun
? Pendhak pindho / 2 tahun
? Sewu dinten / 1000 hari
3. Sebagai kewajiban menghormati para leluhurnya, penghormatan kepada ciptaan Tuhan yang berada di alam nyata sehinga menemukan keselarasan hidup. Upacara tradisi budaya Jawa genduri utawi kenduri diadakan oleh para warga yang telah berkumpul di tempat sesuai acara yang akan dilaksanakan, biasanya berkaitan dengan :
? Kirim ndowa tandur
? Kirim ndowa cas gagang
? Gumregan

? Medali
? Bresik
? Rasulan Gerotan.
4. Tatacara adat tradisi yang berkaitan dengan hidup berkeluarga, dengan tahapan tatacara antara lain :
? Lamaran
? Pasrah Sarana
? Kendhuri Wilujengan utawi Memule
? Pasang Tarub
? Midodareni
? Punjungan
? Ijab-Kabul
? Panggih Manten
? Walimahan Resepsi
? Tepung Besan

Kesenian dan Permainan Tradisional
Seni budaya Tadisional yang masih lestari dan dilaksanakan oleh warga wilayah Gerotan antara lain :
1. Wayang Kulit
2. Karawitan
3. Kethoprak
4. Reog
5. Sholawatan
6. Srandul
7. Kethek Ogleng
Adapun untuk mempermudah memahami potensi kesenian tradisional yang ada di wilayah Gerotan sebagaimana tercantum dalam tabel di bawah ini :
1 Wayang Kulit 1 Gerotan
2 Karawitan 2 Gerotan, Brongkol
3 Kethoprak 1 Gerotan
4 Srandul 1 Brongkol

5Reog/ 1 Brongkol

Berbagai sumber menyampaikan bahwa dahulu di wilayah Gerotan terdapat beberapa kesenian tradisional yang tergolong langka dan punah, antara lain srandhul, kethek ogleng, kuda lumping.
? Srandul
Srandul merupakan salah satu kesenian tradisional yang relatif kuno sudah ada sejak tahun 1940 an yaitu berupa drama berbahasa jawa dikombinasikan dengan gerak tarian dengan iringan instrumen rinding, angklung, rebana diterangi cahaya dari oncor/ obor dari bambu. Biasanya dimainkan oleh 8-10 orang dengan mengambil cerita babad tertentu. Konon dimainkan malam hari dengan mengambil tempat dengan halaman yang luas.

? Kethek Ogleng
Salah satu kesenian tradisional yang pernah mengalami masa kejayaan di wilayah Gerotan dan sekitarnya. Biasanya memerankan cerita babad Jenggalamanik yang iringi oleh instrumen karawitan jawa dengan tokoh utama pemeran kera yang bergelantungan di atas seutas tali mirip dengan permainan sirkus.

? Reog Klasik
Dibentuk sekitar tahun 1956, merupakan bentuk tarian reog keprajuritan terdiri dari dua regu diiringi instrumen kendang, bende, kecrek, dan kempul sehingga membentuk gerak ritmik yang padu dan penuh semangat, reog ini juga sering disebut reog bedhog atau reok khas Gunungkidul. Reog dengan nama Setyo Budaya ini mengalami beberapa evolusi dan perubahan kreasi dan masih tetap lestari sampai dengan era tahun 2000 an.

? Kuda Lumping
Pernah berdiri paguyuban kuda lumping pada tahun 1964 merupakan kesenian berupa tarian kuda lumping dengan iringan menyerupai reog biasanya ditampilkan sebagai pembuka pentas kethoprak.
? Kethoprak
Paguyuban seni kethoprak telah berdiri sejak tahun 1954, merupakan seni drama berbahasa jawa krama, dengan mengambil cerita babad Mataram atau Majapahit dan bisa juga mengambil cerita legenda masyarakat setempat. Diiringi seni karawitan biasanya dipentaskan pada saat acara hajatan dan upacara adat masyarakat. Paguyuban Kethoprak di wilayah Gerotan dengan sebutan Madya Budaya sampai sekarang masih eksis dan beberapa tahun terakhir selalu ditampilkan dalam acara rasulan Gerotan.

? Karawitan
Seni karawitan sudah ada sejak dahulu mulai tahun 1950 seiring dengan munculnya berbagai kesenian di atas sebagai pengiring pentas dan tetap lestari sampai saat ini. Terlebih dengan adanya sarana prasarana pendukung seperti perangkat gamelan. Pada tahun 2017 tokoh seni dan juga seorang dalang wayang kulit dari Dusun Gerotan bernama Parino Darmono mempunyai perangkat gamelan 1 pangkon slendro-pelog lengkap dengan perangkat wayang kulit, menjadikan paguyuban karawitan yang ada semakin maju dan kreatif dalam mengembangkan seni karawitan. Melalui kesabaran tokoh karawitan Tris Tugiyo (Gerotan) dan teman temanya terus bersemangat berlatih karawitan di Sanggar Omah Seni Sudhung Kamardikan milik Parino Darmono yang berada di Dusun Gerotan. Sehingga warga sekitar semakin mencintai dan mau berlatih seni karawitan dan tergabung dalam paguyuban Sekar Laras.

Kemudian pada tahun 2018 Padukuhan Brongkol mendapatkan bantuan perangkat gamelan 1 pangkon komplit dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul. Hal ini semakin memperkuat semangat masyarakat
setempat untuk nguri uri seni karawitan, terbukti berdirinya paguyuban karawitan Langen Cahyo Laras yang beranggotakan ibu ibu PKK Dusun Brongkol dan sekitarnya. Tidak hanya itu, mulai dirintis pembentukan kelompok karawitan anak anak dan remaja dengan tujuan regenerasi dan pengenalan gamelan sejak dini sehingga anak anak menyukai seni karawitan, dan hal ini dilakukan dengan pendekatan dengan Sekolah Dasar yang mampu mendapatkan respon yang baik dari anak anak.
Beberapa kesempatan Kelompok karawitan anak anak Mijil Laras tersebut bisa pentas dan penampilannya sudah cukup memuaskan.

? Wayang Kulit
Seiring dengan berkembangnya kelompok karawitan didukung dengan tersedianya sarana dan prasarananya, lambat laun muncul bidang kesenian lainnya yang sejalan dengan karawitan yaitu seni pedalangan wayang kulit purwa. Beberapa nama tokoh seni pedalangan di wilayah ini antara lain Ki Parino Darmono, Ki Bethu Warsamto, keduanya dalang muda berasal dari Dusun Gerotan dan Dalang Cilik Ridho yang berasal dari Dusun Jimatan. Ki Parino Darmono menimba ilmu pedalangan di sekolah pedalangan “Habirandha” Jogjakarta dan beberapa sanggar pedalangan di DIY dan Jawa Tengah. Selain memiliki kemampuan seni pedalangan, juga mendirikan sanggar Omah Seni Sudhung Kamardikan di Dusun Gerotan. Beberapa kesempatan pentas telah dijalani dalam acara hajatan, upacara adat tradisi maupun kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kalurahan Purwodadi dan Peringatan Hari Wayang Nasional. selain itu juga beberapa kali mengikuti Festival Pedalangan tingkat Kabupaten
Gunungkidul dan meraih prestasi yang membanggakan dalam kategori tertentu.

Yang lebih membanggakan lagi adalah munculnya nama Ridho sebagai dalang cilik yang memulai tertarik dan belajar wayang kulit sejak Kelas I SD dan sekarang duduk di SMP. Lambat laun kemampuan Rido makin terasah seiring dengan beberapa kesempatan pentas baik di tingkat lokal maupun Festival Dalang tingkat Kabupaten Gunungkidul

Sampai saat sekarang nama nama yang disebut di atas masih terus eksis dalam berkreasi dan mengembangkan seni pedalangan dan dengan komitmen yang tinggi dari masayarakat yang senantiasa memberikan kesempatan potensi lokal untuk unjuk keterampilan seni pedalangan.

Permainan/ Dolanan Tradisional
Permainan tradisional yang pernah berkembang diwilayah Gerotan ;
1. Gobag Sodor 5. Egrang
2. Sundha Mandha 6. Gangsingan
3. Benthik 7. Dakon
4. Gotho 8. Jethungan

Tata basa, Sastra, dan Aksara Bahasa
Tata bahasa dengan bahasa jasa krama madya atau bahasa jawa krama hinggil disamping untuk alat komunikasi sehari-hari, juga digunakan dalamn upacara adat, antara lain :
1) Sesorah
2) Pranata Cara
3) Pambagya harja
4) Panglamar manten
5) Panampi
6) Ikral Gendhuri
7) Pamit Lelayu
8) Wilujengan

Sastra
Terkait dengan kemampuan olah sastra, warga wilayah Gerotan sampai sekarang masih melestarikan, yakni antara lain :
1) Panembrama
2) Macapat
3) Paribasan, cangkriman
4) Kapustakan Jawa ( buku – buku )
5) Dongeng
6) Geguritan
Aksara

Aksara Jawa bagi masyarakat Gerotan merupakan salah satu warisan leluhur yang harus dilestarikan. Beberapa tindakan yang harus diupayakan antara lain :
1. Tulisan Papan Petunjuk.
2. Tulisan Papan Ruangan.
3. Sengkalan.
4. Sanggar Seni
5. Pelajaran di Sekolah

Makanan / Kuliner Tradisional dan PekerjaanWarga

Wujud dari kuliner tradisional di wilayah Gerotan tidak berbeda jauh dengan daerah lain, yaitu :
1) Klethi’an
Adalah makanan kecil yang bisanya dibuat dari bahan : Ketela, kacang, dele, beras, krowotan, pisang, dan lain sebagainya.
2) Nasi Thiwul
3) Sega abang,
4) Sambel Pecel,
5) Gudeg ,
6) Sayur Lombok,
7) Wedang Jahe,
8) Peyek, ampyang, puli-tempe, tempe mandhing, jadah ketan,
9) Jamu

Cara meracik dan mengolah, warga para warga wilyah Gerotan masih menggunakan alat dan sarana budaya warisan leluhurnya. Masih menggunakan kayu atau kayu bakar, anglo, lemper munthu yang terbuat dari batu atau tanah liat, kendhil, kukusan,
dan lain sebagainya. Kecuali makanan yang disampaikan di atas yang setiap hari untuk kebutuhan setiap keluarga. Selain itu masih terdapat beberapa bentuk makanan untuk keperluan ubarampe upacara adat, seperti di bawah ini antara lain :
- Tumpeng Alus,
- Jenang abang,
- Sekul Golong,
- Sekul Giling Sasupit,
- Sekul suci ulam sari,
- Tumpeng Robyong,
- Pisang raja,
- Jajan Pasar,
- Rak-rakan,

Pekerjaan Masyarakat

Warga masyarakat Gerotan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani, cara mereka mengolah tanaman juga dengan tatacara tradisional. Baik sarana piranti maupun tatacara tanam, panen dan lain sebagainya. Bersamaan dengan usaha tani, para petani di wilayah Gerotan juga mempunyai pekerjaan sampingan sebagai pedagang, pengrajin kayu/bambu, produksi kuliner tradisional, Warung makan dan juga beternak dengan hewan peliharaan sapi, kambing atau ayam. Semuanya diupayakan buat kebutuhan hidup semua warga. Pekerjaan sampingan yang dilakukan masyarakat Gerotan antara lain kerajinan dari bambu yag berwujud anyam-anyaman tenggok, tampah, kukusan, kepang, gedhek, dan juga mengolah hasil pertanian lokal. Sebagian lagi, warga masarakat Gerotan juga bekerja sebagai tukang kayu, tukang batu membangun rumah, perlengkapan rumah tangga /Meubel dan lain sebagainya.

Warisan Budaya dan Arsitektur Kuno

Warisan Budaya

Warisan budaya yang masih ditemukan di wilayah Gerotan ada yang berwujud tatacara juga ada yang berwujud barang atau bangunan rumah tinggal, antara lain :

  1. Tosan Aji seperti; keris, tombak, patrem, pedang, dan Akik atau Batu mulia.
    2. Petilasan/makam/nisan Leluhur
    3. Tanah Sultan Ground (SG)
    4. Perkakas/peralatan kuno
    5. Surat/ naskah kuno
    6. Gamelan
    7. Gunung Pertapan Bajo

Pogo adalah tempat penyimpanan hasil pertanian biasanya jagung, yang ditaruh di atasnya. Guna mengawetkan jagung yang disimpan di atas Pogo, maka bagian bawah Pogo tersebut biasanya tungku untuk memasak dengan bahan bakan kayu atau yang disebut Pawon. Dengan asap yang dihasilkan dari dari pawon, akan mengawetkan jagung yang disimpan sampai beberapa bulan.

Kolah adalah tempat penampungan air yang berbentuk persegi panjang yang terbuat dari batuan kapur atau giring yang dipahat sedemikian rupa menyerupai kotak, didapatkan dengan cara membeli atau tukar menukar dengan kayu.

Arsitektur

Beberapa bangunan yang menggambarkan ciri khas atau warisan budaya bangsa khususnya masyarakat Jawa yang berada di wilayah Gerotan, antara lain :
1. Tugu batas antar dusun;
2. Makam, berupa : cungkup, maesan/nisan;
3. Rumah adat berbentuk : joglo, limasan, litring, kampung;
4. Bangunan Balai Padukuhan ;

Warga Wilayah Gerotan masih melestarikan budaya adiluhung warisan lelulur jaman dulu guna menghormati perjuangan dan pesan yang menjadi pelajaran yang masih relevan diamalkan bagi generasi sekarang diantaranya adalah :
- Gotong royong.
- Aja dumeh.
- Wong Jawa aja ilang Jawane,
- Narima Ing Pandum,
- Watak andhap asor
- Mukti siji mukti kabeh

- Nyawiji dadi siji
- Ora dipiji piji

Berhubungan dengan toleransi antar warga yang satu dengan warga yang lainnya selalu saling menghormati, watak rendah hati, tolong menolong, gotong royong, asah asih lan asuh. Agama sebagai pedoman hidup dan menjadi landasan, serta menghormati apa yang menjadi pantangan dan tidak boleh dilakukan sebagai penerang, pengayom, penuntun dan kiblat menyembah Tuhan yang Maha Esa. Adat budaya yang masih berjalan dan dilestarikan di wilayah Gerotan, antara lain :
? Sambatan
Sambatan adalah salah satu adat budaya yang berhubungan dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja banyak. Para warga, tetangga dekat di sekitar dengan memberikan dukungan berupa tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Pekerjaan yang biasa diselesaikan dengan cara sambatan adalah membangun rumah, mendirikan gubug.

? Rewang di hajatan atau orang meninggal
Setiap ada keperluan warga masyarakat ketika akan menggelar hajatan atau ketika pada saat masyarakat sedang berduka adanya anggota keluarga yang meninggal, maka pekerjaan tersebut tidak mungkin selesai tanpa bantuan tetangga kanan kiri dan saudara terdekat dari awal sampai selesai.
? Gugur gunung atau royongan
Gugur gunung atau royongan berhubungan dengan pekerjaan di tegal atau lahan pertanian, kegiatan bertani yang dilakukan secara bersama sama, umumnya dilakukan oleh kaum perempuan. Kegiatan gugur gunung atau royongan dijalankan dengan bergantian dari satu tempat ke tempat anggota lainnya .

? Gerakan atau Gerbuhan.
Gerakan (dibaca Gera’an) adalah salah satu kegiatan/pekerjaan yang dilaksanakan secara bersama sama, namun bedanya dengan istilah di atasnya, yakni biasanya berhubungan dengan tempat tempat milik bersama atau fasilitas umum
antara lain; membersihkan dan merapikan jalan, rehab balai padukuhan dan lingkunganya, membangun masjid, membangun talut, membangun pagar, dan lain sebagainya.

Semua pekerjaan di atas dijalankan dengan baik tanpa pamrih tidak menggunakan dana untuk upah. semua adat budaya tadi masih berjalan dengan baik di wilayah ini yang belum tentu ditemukan di wilayah lain. Para warga merasakan bahwa persaudaraan dan kekeluargaan itu tidak bisa dibeli dengan uang atau harta kekayaan. Adanya hanyalah rasa tolong-menolong antar tetangga dan saudara.

PERKEMBANGAN ISLAM DI WILAYAH GEROTAN

Dimulai dari masa pemerintahan Kalurahan Gesing antara tahun 1930 an sampai dengan 1947. Pada saat itu wilayah Gerotan termasuk bagian dari kalurahan Gesing yang kedudukan pemerntahan berpusat di kediaman Lurah yang saat itu menjabat
yaitu Prawiroharjo dibantu seorang Carik yang bernama Sandiman. Disamping ada beberapa pamong kalurahan yang membantu jalannya pemerintahan, tersebutlah seorang Kaum yang bernama Kasan Iman, beliau lahir sekitar tahun 1900 an. Mengemban tugas sebagai Kaum di wilyah sekitaranya. Kaum adalah sebutan bagi seorang yang melaksanakan ketugasan bidang religius, dalam hal ini agama Islam. Pada saat itu masih jarang, warga yang memiliki kemampuan di bidang agama sehingga tugas kaum tersebut menjadi panutan warga sekitar menjalankan dan belajar tentang agama.
Diyakini, Kasan Iman memiliki kemampuan di bidang agama Islam setelah beliau menimba ilmu di daerah lereng gunung Merapi dan Merbabu, sejenis Pondok pesantren, setelah dirasa cukup ilmu dan pengalaman tentang agama Islam, selanjutnya
dipercaya bertugas sebagai Kaum oleh Kalurahan Gesing. Kasan Iman bertempat tinggal di kampung Pule padukuhan Kenis, bersama istrinya. Sesuai dengan silsilah yang diceritakan beberapa narasumber, bahwa Kasan Iman merupakan kakak dari Ny. Rani (istri Marto Sentono, Kamituwa saat itu). Selama hidupnya Kasan Iman pernah menikah beberapa kali hal ini karena istrinya meninggal dunia, istri yang terakhir bernama Ny. Satiyem (mbah Sender) namun dalam perkawinan itu tidak dikaruniai putra sehingga waktu itu mengasuh salah satu anak saudaranya itu yang bernama Atmo Soepardi dan rumah peninggalan Kasan Iman tempo dulu masih berdiri yakni rumah yang ditempati keluarga Atmo Soepardi.

Peranan Kasan Iman dalam pengembangan agama Islam di wilayah ini antara lain dengan membangun Langgar di halaman rumah yang terbuat dari kayu berbentuk panggung, membentuk komunitas pengajian warga sekitar, disamping itu juga membuat dan mendirikan kelompok musik rebana (trebangan). Alat musik rebana ini dibuat langsung oleh Kasan Iman dan dipergunakan berlatih dengan kelompok Trebang, dan sampai saat ini sebagian alat Trebang tersebut masih disimpan oleh kerabatnya di wilayah Kenis. Pada saat itu belum memiliki bangunan masjid, sehingga pusat kegiatan keagamaan dijalankan di rumah Kasan Iman. Tokoh agama ini menetap sampai meninggal dunia di Kenis kemudian dimakamkan di komplek pekarangan sebelah utara
rumah beliau. Pada makamnya ditemukan nisan yang terbuat dari Kayu alam. Selanjutnya tugas sebagai kaum diteruskan oleh Partono. Sejak meletusnya tragedi pemberontakan PKI atau G30S/PKI, terjadi pengikisan bahkan pembatasan kegiatan kegiatan keagamaan terutama agama Islam, karena akan berbenturan dengan faham Komunis yang sedang berkecamuk. Tidak terkecuali di wilayah Gerotan, dalam menjalankan kegiatan peribadatan tidak leluasan dan sembunyi sembunyi karena dimungkinkan di wilayah tersebut terdapat simpatisan PKI. Setelah pergerakan Partai Komunis yang ada di Indonesia lambat laun dibubarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, yang dilancarkan oleh Tentara RPKAD saat itu, suasana Indonesia secara umum berangsur pulih dan keamanan terkendali, tak terkecuali wilayah ini. Untuk memulihkan dan meningkatkan pengetahuan tentang keagamaan, maka pemerintah mendirikan lembaga pendidikan Madrasah di berbagai wilayah. Tujuan pendiri Madrasah adalah untuk melawan paham komunisme yang cenderung atheis atau tidak mengenal Tuhan. Maka di wilayah Gerotan berdiri Madrasah di Weru, Brongkol pada tahun 1968 dengan bangunan yang sederhana, dinding gedhek dan lantai masih tanah. Pada saat itu beberapa anak mulai belajar di tempat teresebut terutama ilmu agama Islam. Setelah beberapa tahun beroperasi, Madrasah pindah lokasi di wilayah Kenis sampai beberapa tahun. Seiring dengan kamajuan jaman, mulai berdiri Sekolah Dasar Inpres dengan sebutan SD Purwodadi pada tahun 1978 sampai sekarang, bertempat di wilayah Weru Brongkol, maka kegiatan madrasah mulai surut dan akhirnya tutup karena kebanyakan anak anak sekolah di SD tersebut.

Setelah melewati beberapa masa dan perkembangan jaman, telah banyak warga sekitar tepatnya di tahun 1984 dirintis berupa pembangunan tempat ibadah yang di inisiasi oleh tokoh tokoh agama di wilayah 4 padukuhan salah satunya Muh.Sukamto. bersama dengan tokoh yang tergabung dalam panitia, berhasil mendirikan Mushola “Arba Iman” berlokasi di Padukuhan Brongkol. Mushola ini satu satunya yang berdiri di wilayah 4 (empat ) padukuhan sehingga yang menggunakannya pun warga dari 4 padukuhan. Lokasi yang digunakan untuk mendirikan bangunan mushola tersebut adalah tanah wakaf milik Ny Satem binti Noyodikromo (nenek Muh.Sukamto), saat awalnya bentuk bangunan berupa rumah limasan dari kayu, setelah beberapa kali melewati tahap pembangunan dan pengembangan mushola Arba Iman akhirnya berganti menjadi Masjid Nurul Iman.

Kemudian pada tahun 1994 dirintis pembangunan masjid Al Ikhlas yang berlokasi di Gerotan, tepatnya disebelah sumur bersejarah menempati sebagian tanah wakaf dan sebagian tanah Nglurung. Pembangunan ini diinisiasi oleh mahasiswa yang KKN di wilayah tersebut dan didukung oleh tokoh masyarakat. Akhirnya pada tahun 1997 masjid ini selesai pembangunanya sehingga bisa berfungsi penuh.

Masjid Al Ikhlas Gerotan memiliki keunikian tersendiri, karena komplek masjid ini terdapat sebuah sumur Sendang Tirto yang airnya tidak pernah kering walaupun di musim kemarau. Sesuai namanya sendang tirto berarti sumber air, sumur ini semula berupa susunan batu yang berbentuk belik atau blumbang, dengan swadaya masyarakat Gerotan sumur tersebut dibangun sehingga berbentuk bangunan seperti saat sekarang. Air sumur inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk wudhu dan kebutuhan sehari hari.

Pada saat yang hampir bersamaam juga dirintis pembangunan masjid di padukuhan Jimatan oleh Dukuh Sarino, menempati tanah wakaf dari Ny.Marikem (Putra Kromo Setiko) dengan menggunakan kayu Segawe. Kemudian dilakukan tahap pembangunan dan penyempurnaan sampai akhirnya diresmikan Masjid Jabal Alfa ketika masa Dukuh Subekti. 

Di Padukuhan Kenis juga dirintis pembangunan masjid An Nur pada tahun 2000.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 
Pencarian
Sekilas Info!
Arsip Artikel
Galeri Foto
GENDING DUMADHINING PURWODADI
Statistik Kunjungan
Hari ini
Kemarin
Total Visitor
Media Sosial